Allegri Pantas Masuk Buku Sejarah Juventus

Bulan April berhasil dimaksimalkan oleh Massimiliano Allegri untuk memastikan Juventus meraih Scudetto 2015/2016. Kendati sudah memastikan gelar juara, Allegri menuntut agar performa Juventus tetap maksimal di laga sisa musim itu.

Apalagi penampilan yang harus tetap terjaga itu disiapkan untuk laga final Coppa Italia. Maka dari itu bukan tanpa alasan jika Allegri geram kepada skuatnya ketika dikalahkan Hellas Verona, “Kekalahan ini tidak dapat diterima!” tegasnya dengan amarah, seperti yang dikutip dari Football-Italia.

Tapi Allegri bisa lega karena Juventus masih sanggup memenangkan pertandingan final dan menjadi juara Coppa Italia 2015/2016. Dan pemandangan di Stadion Olimpico saat itu menjadi penyesalan bagi Milan. Mereka duduk berlawanan dengan Allegri yang pernah melatih kesebelasan itu selama tiga setengah musim. Namun sekarang Allegri tidak hanya berkembang di Juventus, tapi ia berada di ambang sejarah baru dari Kota Turin.

Sebelum laga final, Allegri mendapat sodoran perpanjangan kontrak berdurasi sampai 2018. Sebelumnya, kontrak pria kelahiran Livorno itu akan berakhir pada 2017. Perpanjangan kontrak itu memastikan kesetiaannya untuk Juventus, walau sempat digoda Chelsea beberapa waktu lalu, “Masa depan saya? Tentu saja Juventus!” katanya seperti dikutip dari Rai Uno.

Allegri memang berhasil mengobati luka pendukung Juventus yang ditinggalkan Antonio Conte. Wajar jika merasa kehilangan Conte yang hengkang pada 2014 lalu. Sebab ia adalah Juve dan Juve adalah Conte. Ia adalah mantan kapten dan bintang dari Juventus yang meraih Scudetto dan Liga Champions.

Maka ketika pelatih kesayangan itu memilih untuk pergi, kegelapan seolah membutakan Juventus. Setelah ditinggalkan, rasa cemas dan takut menghinggapi para suporter Juventus, apalagi ketika Allegri diumumkan untuk menggantikan pahlawan mereka. Reaksi yang rasional ketika Allegri santer diberitakan akan melatih Juventus adalah “Allegri? pelatih yang dipecat oleh Milan itu?”.

Kemudian pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana ia akan menangani kesebelasan besar di Italia? Toh, Gianluca Zambrotta pun menyalahkannya sebagai penyebab kejatuhan Milan. Kemudian bagaimana tentang pertengkarannya dengan Zlatan Ibrahimovic dan menyebabkan Andrea Pirlo hengkang? Belum lagi menjadi ia pelatih yang selalu kesulitan menghadapi mantan kesebelasannya, Sassuolo.

Ketika ditanya tentang bagaimana ia memimpin ruang ganti di Milan, Allegri mengungkapkan soal konfliknya, “Pembicaraan sangat rumit di ruang ganti (Milan). Anda masuk dan hampir semua orang memakai headphone dengan musik yang keras. Orang lain tidak saling bicara.

Itu membutuhkan otoritas, rasa hormat dan kesabaran. Itu bukan gaya saya untuk menggaris bawahi setiap hari bahwa saya yang bertanggung jawab. Saya menunjukkan bagaimana mereka harus dipaksa untuk mendengarkan saya, bukan karena saya yang terbaik,” ungkapnya seperti yang dikutip ESPN FC.

Tapi di Juventus akhirnya ia mendapatkan kepercayaannya di ruang ganti. Sebelumnya, kedatangan di Juventus disambut dengan kemarahan para suporter dari Kota Turin itu. Allegri hanya membalasnya dengan senyuman dan berkata bahwa ia akan segera memberikan gelar.

Di sisi lain, Allegri tidak membanggakan karakternya atau menyamakan dirinya dengan Conte, tapi pada kenyataannya dia justru punya sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu intelejensi dalam sepakbola.

Dari intelejensi itu diinginkan sebuah kesatuan tanpa ada kesombongan status pemain bintang di dalam skuatnya. Allegri lebih melihatnya melalui individu para pemain itu sendiri, terutama pemain muda.

Ia jeli melihat pemain yang berbakat dan bisa dikembangkan menjadi bintang yang besar. Allegri menekankan para pemainnya untuk menunjukkan kecerdasannya, tapi tetap gigih berkorban untuk kesatuan skuatnya.

Kabarnya, Allegri cenderung pelatih yang sabar ketika latihan. Pelatih berusia 48 tahun ini tidak berusaha untuk mengendalikan keputusan-keputusan para pemainnya. Salah satunya ketika pemainnya melakukan kesalahan ketika latihan. Banyak yang menyebutkan apa yang terjadi di tempat latihan yang membuat Allegri bisa mempersembahkan double winner pada dua musimnya bersama Juventus.

Kini, tugas utama Allegri pada musim depan adalah menjuarai Liga Champions. Apalagi jika sanggup mempertahankan gelar-gelar di Liga Italia. Hanya saja mantan Pelatih Cagliari ini memiliki kendala untuk meningkatkan kualitas skuatnya agar bisa menjuarai Liga Champions, kompetisi paling bergengsi seantero Eropa.

“Skuat ini berat, tapi kami tetap mencoba untuk mendapatkan jalan dari yang kami lakukan untuk memperbaiki setiap individu pemain yang kami dapatkan. Ini tentu tidak mudah untuk memperbaikinya dengan pemain baru, karena pemain berkualitas Eropa yang bermain untuk Juventus itu sedikit,” jelasnya.

Maka dari itu sebagai langkah awal, Allegri ingin mempertahankan Alvaro Morata. Kabarnya kini ia mengincar pemain-pemain berkelas di Eropa yang memiliki mental juara seperti Dani Alves dan Javier Mascherano untuk memenangkan Liga Champions musim depan.

Apalagi sejauh ini keberhasilan Allegri jauh dari sekadar di lapangan saja. Ia berhasil membawa Juventus tetap di dalam kelasnya dan berhasil membawanya kembali ke esensi sejatinya, sebagai penguasa Italia.

Atas hal di atas, Allegri jelas bukan sosok sembarangan bagi Juventus. Selamat masuk ke dalam catatan sejarah baru Juventus, Allegri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *