Gol Kontroversial Peru Hentikan Langkah Brasil di Copa America Centenario

Brasil akhirnya harus pulang lebih cepat. Brasil mengikuti jejak langkah Uruguay, menjadi tim unggulan yang harus pulang lebih dahulu dalam ajang Copa America Centenario 2016. Hal ini didapat setelah Brasil takluk 0-1 atas Peru dalam pertandingan yang berlangsung di Foxborough, Senin (13/6) pagi WIB.

Gol tunggal yang menggagalkan Brasil untuk melaju lebih jauh dalam ajang ini dicetak oleh Raul Ruidiaz pada menit ke-75. Namun, ada yang menarik dengan gol ini. Gol ini dicetak oleh Raul Ruidiaz dengan menggunakan tangan. Kejadian ini mirip dengan apa yang dilakukan oleh Diego Maradona pada Piala Dunia 1986.

Namun, terlepas dari bumbu yang tercipta, penampilan Brasil bisa dibilang cukup mengecewakan. Sepanjang pertandingan, mereka seakan sulit menemukan gawang Peru. Sekalinya mendapatkan peluang, peluang itu harus berakhir di bawah kegemilangan seorang Pedro Gallese.

Sejak awal pertandingan, Brasil sadar akan pentingnya memenangi pertandingan kali ini, atau minimal meraih hasil seri, karena dalam pertandingan sebelumnya Ekuador berhasil meraih kemenangan 4-0 melawan Haiti. Brasil langsung menekan lini pertahanan Peru dengan membabi-buta.

Phillipe Coutinho dan Willian masih diandalkan di sayap kiri dan kanan. Jonas untuk kali ini tidak bermain, dan perannya diambil alih oleh seorang Gabriel Barbosa, wonderkid dari Santos. Renato Augusto dan Elias menjadi metronom di lini tengah Brasil, dengan Luis Lima yang menjadi gelandang dengan peran “No. 10”.

Meski menyerang secara agresif, Brasil begitu kesulitan menembus pertahanan Peru. Hal ini dikarenakan Peru menerapkan apa yang dilakukan oleh Ekuador dalam pertandingan pertama; menerapkan garis pertahanan dalam.

Dengan menerapkan sistem ini, Gabriel terisolir di lini depan. Coutinho dan Willian pun hanya bisa berputar-putar di sayap tanpa bisa masuk ke kotak penalti karena kawalan dari bek sayap Peru yang ditopang oleh gelandang bertahannya begitu ketat.

Selama hampir sepanjang pertandingan, bahkan ketika Gabriel digantikan Hulk di babak kedua, hal ini terus berulang terjadi. Kesulitan Brasil ini ditambah dengan gemilangnya penampilan Pedro Gallese, yang mampu beberapa kali menggagalkan peluang emas yang dimiliki Seleccao.

Di sisi lain, karena menerapkan garis pertahanan dalam dan menumpuk gelandang di area sepertiga lapangan akhir, Peru pun menjadi kesulitan untuk menyerang.

Serangan Peru akhirnya hanya tertumpu pada Christian Cueva dan Paolo Guerrero yang mampu dihentikan oleh Gil dan Miranda. Peru baru bisa menyerang dengan baik saat kedua bek sayap Peru berani untuk membantu menyerang, yang diakhiri oleh gol “Tangan Tuhan” Ruidiaz.

Apapun faktor yang menyebabkan Brasil tidak lolos, pada intinya Brasil tidak tampil begitu baik dalam turnamen ini, utamanya saat bertemu Ekuador dan Peru. Dengan tidak lolosnya Brasil ini, kemenangan mereka 7-1 atas Haiti pun terasa hampa.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *