Siapa yang Akan Dampingi Prancis ke Babak 16 Besar Piala Eropa?

Piala Eropa 2016 akan dibuka lewat partai pembuka antara Prancis menghadapi Rumania di Stade de France pada Sabtu (11/6) dini hari WIB. Pertandingan di grup yang paling awal biasanya menarik karena di grup itulah diketahui mana kesebelasan yang lolos mana yang gugur.

Prancis kemungkinan besar tidak akan kesulitan untuk lolos dari grup yang dihuni pula oleh Rumania, Swiss, dan Albania tersebut. Pasalnya, dari sejumlah hal teknis yang meliputi komposisi pemain, sampai hal non-teknis seperti dukungan penonton, Prancis lebih unggul.

Secara hitung-hitungan dari koefisien, kesebelasan yang berpotensi menyulitkan Prancis–dalam urutan—adalah Swiss, Rumania, dan Albania. Secara komposisi pemain, urutan koefisien tersebut tidaklah salah.
Grup A
Albania, misalnya, hanya menyertakan tiga penyerang yang seolah menunjukkan kalau mereka tidak akan bermain menyerang. Selain itu, dari hasil uji tanding selama 2016, Albania tak begitu superior dengan mencatatkan dua kemenangan dan dua kekalahan.

Prancis punya skuat mumpuni untuk bisa lolos ke fase gugur. Nama-nama seperti Hugo Lloris, Patrick Evra, Adil Rami, Laurent Koscielny, Bacary Sagna, N’Golo Kante, Blaise Matuidi, Paul Pogba, Dimitri Payet, Antoine Griezmann, serta Olivier Giroud, diperkirakan tidak akan sulit untuk mematahkan perlawanan kesebelasan lain.

Prancis punya agresivitas dalam mencetak gol, pun punya tembok yang kuat kala bertahan. Prancis akan bermain menyerang di Piala Eropa mendatang dan secepat mungkin menjadi yang pertama lolos ke babak 16 besar. Hasil tersebut menjadi penting karena Prancis bisa melakukan rotasi pada pertandingan ketiga, agar para pemain utama bisa tampil prima di fase gugur.

Rumania, Tim dengan Pertahanan Terbaik

Pada pertandingan pertama, Prancis akan menghadapi Rumania. Meski unggul secara teknis, tapi Rumania jelas tak bisa disepelekan. Melihat dari cara mereka lolos ke Piala Eropa, kesebelasan besutan Anghel Iordanescu ini patut diwaspadai karena tak pernah kalah di babak kualifikasi. Selain itu, Rumania lolos dengan jumlah kebobolan paling sedikit di babak kualifikasi: hanya dua gol!

Pertahanan kuat Rumania dikoordinasi oleh fullback kiri berpengalaman, Razvan Rat. Selain itu, Rumania pun punya dua kiper yang layak diandalkan di bawah mistar: Costel Pantilimon dan Cipiran Tatarusanu.

Dari lima laga uji tanding selama 2016, Rumania sejatinya tidak mendapatkan hasil yang memuaskan. Mereka hanya menang dua kali dan dua kali seri. Rumania bahkan dikalahkan dengan kebobolan empat gol kala menghadapi Ukraina.

Namun, Iordanescu bisa berkilah karena ia tidak menurunkan para pemain utama kala menghadapi Ukraina. Selain itu, partai menghadapi Ukraina merupakan pertandingan terakhir jelang penutupan pendaftaran 23 skuat yang akan dibawa Iordanescu ke Paris.

Rumania bukanlah kesebelasan yang keluar menyerang demi meraih kemenangan. Di babak kualifikasi, Rumania hanya mencetak 11 gol dari 10 pertandingan. Ini menunjukkan kalau Rumania ingin bermain aman terlebih saat mereka telah unggul terlebih dahulu.

Soal urusan mencetak gol pun agaknya tidak diserahkan kepada para penyerang. Dari lima uji tanding tersebut, justru Nicolae Stanciu yang mampu mencetak empat gol, disusul Gabriel Torje dengan dua gol. Uniknya dua pemain tersebut adalah gelandang. Sementara itu, sang penyerang, Denis Alibec dan Claudiu Keseru masing-masing mencetak satu gol.

Rumania bukan tidak mungkin memilih bertahan dan melakukan serangan balik. Hal ini tentu berbahaya buat kesebelasan yang tak mampu melakukan transisi dari menyerang ke bertahan dengan baik. Yang jelas, Rumania akan membuat frustasi dan merepotkan.

Swiss dan Lini Serang yang Tumpul

Berdasarkan koefisien, Swiss ditempatkan di Pot 2 yang merupakan pesaing utama yang diharapkan bisa menjegal Prancis. Swiss punya bekal yang baik menuju ke Piala Eropa. Kesebelasan besutan Vladimir Petkovic tersebut hanya kalah dari Inggris dan sekali dari Slovenia di babak kualifikasi. Sisanya, mereka membabat habis semua lawan.

Swiss mampu mencetak 24 gol di babak kualifikasi, tapi catatan tersebut sejatinya bisa tersisihkan karena lawan mereka yang “hanya” San Marino dan Lithuania yang kerap menjadi bulan-bulanan lawan.

Swiss justru mendapatkan hasil buruk dalam uji tanding selama 2016. Mereka hanya menang sekali dari empat pertandingan, sementara sisanya kalah.

Permasalah utama Swiss yang terlihat adalah mereka amat kesusahan dalam mencetak gol. Kala menghadapi Irlandia dan Bosnia Herzegovina, tidak ada satupun gol yang dicetak oleh Haris Seferovic yang musim ini hanya mencetak tiga gol di Bundesliga bersama Eintracht Frankfurt. Nama lain seperti Admir Mehmedi, biasanya diturunkan di sisi untuk menopang penyerang utama. Ini yang membuat tumpuan untuk mencetak gol, tidak bisa diserahkan pada pemain yang pindah ke Bayer Leverkusen dan mencetak dua gol tersebut.

Petkovic sempat menurunkan Eren Derdiyok kala dikalahkan Belgia 1-2. Namun, pemain kesebelasan Kasimpasa tersebut tetap tak mampu menyumbang gol buat Swiss.

Swiss beruntung karena punya jajaran lini tengah yang kuat. Swiss punya Xherdan Shaqiri yang kerap bermain menyisir sayap kanan. Selain itu, ada nama Granit Xhaka, Valon Behrami, dan Blerim Dzemaili yang menjadi andalan di lini tengah.

Di pos penjaga gawang, trio Bundesliga, Yann Sommer, Marwin Hitz, dan Roman Burki, adalah jawaban dari kualitas pertahanan Swiss. Di lini pertahanan, Swiss punya pemain berpengalaman macam Stephan Lichtseiner, Steve von Bergen, dan Johan Djorou, yang dipadukan dengan pemain yang lebih muda macam Fabian Schar.

Swiss mungkin saja akan lebih mendominasi penguasaan bola. Namun, tumpulnya lini serang bukan tidak mungkin akan menyulitkan Swiss untuk memenangi pertandingan.

Albania

Prancis adalah debut Albania di Piala Eropa. Albania bisa dibilang sebagai salah satu tim lemah di Eropa yang kerap menduduki peringkat terbawah dalam babak kualifikasi. Di Prancis, hal tersebut bukan tak mungkin akan terulang.

Melaju ke Prancis sejatinya bisa dibilang sebagai langkah mengejutkan dari Albania. Pasalnya, mereka berhasil menyingkirkan Denmark, Serbia, dan Armenia, di babak kualifikasi untuk langsung lolos ke babak utama.

Hampir tidak ada pemain yang namanya benar-benar dikenal dalam skuat Albania, kecuali kiper Etrit Berisha dan sang kapten, Lorik Cana. Pemain kelahiran 27 Juni 1983 tersebut merupakan pemegang caps terbanyak Albania dalam skuat yang dibawa pelatih Gianni De Biasi.

Selain itu, ada pula nama Taulant Xhaka yang merupakan kakak dari pemain baru Arsenal yang membela Swiss, Granit Xhaka. Granit bahkan pernah menyebutkan bahwa saudaranya itu bermain lebih baik ketimbang dirinya. Peluang Albania untuk lolos memang berat, tapi setidaknya mereka bisa mengincar pos peringkat ketiga terbaik.

Peluang Lolos

Prancis kemungkinan besar lolos secara otomatis. Sementara itu, peringkat kedua kemungkinan ditempati oleh Swiss, sementara peringkat ketiga masih mungkin diperebutkan Albania ataupun Rumania. Namun, melihat tren dalam uji tanding selama 2016, Rumania jauh lebih berpotensi menduduki peringkat ketiga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *